![]() |
| Suasana paripurna masa persidangan V tahun 2018-2019 di Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (28/5/2019). Dalam rapat paripurna ini membahas agenda, pertama adalah laporan BPK RI menyampaikan LHP LKPP Tahun 2018 dan IHPS II Tahun 2018 serta penyerahan LHP Periode Semester II Tahun 2018. Kedua hasil uji kelayakan dan kepatutan calon hakim agung dari komisi III dan ketiga penyampaian pandangan fraksi-fraksi atas Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN TA 2020. | AKURAT.CO/Sopian |
Pendapatan negara dari pajak dalam negeri tercatat mengalami perlambatan signifikan sepanjang kuartal I 2019. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat pendapatan pajak hanya tumbuh 1,8 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp249 triliun.
Padahal periode yang sama tahun lalu, pertumbuhan pajak dalam negeri mencapai 9,9 persen yoy. Dengan kondisi ini, muncul adanya rumor bahwa kas negara dalam kondisi memprihatinkan.
Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan menyatakan rumor tersebut bisa saja benar terjadi.
"Bisa jadi karena selama ini kita masih berpatokan dengan pendapatan yang namanya pajak," katanya saat ditemui di Gedung DPR RI, Senin (24/6/2019).
Memurut Heri, rendahnya penerimaan negara dari pajak tercermin dari tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat rendah. Salah satu penyebabnya adalah iklim usaha yang tidak tumbuh dan berkembang.
"Pertumbuhan ekonomi kita 5,1 persen. Sementara inflasi kita ada di 3,25 - 3,5 persen. Berarti kan secara nyata pertumbuhan kita hanya 1,5 persen secara real. Kalau pertumbuhan ekonomi kita 1,5 persen adalah iklim usaha yang tumbuh dan berkembang. Jika tidak ada iklim usaha tidak tumbuh dan berkembang berarti mungut pajaknya juga sulit," jelasnya.
Politisi Gerindra ini menyarankan pemerintah untuk lebih memperhatikan sektor riil agar iklim usaha dapat tumbuh dan berkembang. Dengan demikian, pemerintah memiliki potensi penerimaan negara yang tinggi dari sektor riil.
Sebab menurut Heri, selama ini hanya pemerintah mengambil langkah cepat melalui capital inflow yang rentan terhadap meningkatnya utang.
"Selama ini pemerintah itu dalam hal-hal seperti ini mereka cenderung mencari cara cepat melalui capital inflow buka pasar cetak SBN ambil pinjam uang. Ini kan relatif lebih rentan dibanding sektor riil yang harusnya ditumbuh kembangkan oleh pemerintah agar kedepannya kita tidak tergantung," tutupnya.
Sumber:Akurat.co

Komentar
Posting Komentar