Langsung ke konten utama

Gedung Dewan di Italia Kebanjiran Tepat setelah Tolak RUU Perubahan Iklim

Image
Gedung Dewan Regional di Grand Canal Venesia, Italia | Express

 edung Dewan Regional di Grand Canal Venesia, Italia, dilanda banjir besar untuk pertama kalinya dalam sejarah. Air menggenangi gedung pada pukul 10 malam waktu setempat, tepat setelah para anggota dewan menolak langkah-langkah untuk mengatasi perubahan iklim.

Saat itu para anggota dewan tengah menggelar rapat anggaran untuk tahun 2020. Keadaan gedung ditunjukkan ke publik oleh anggota dewan dari Partai Demokrat Andrea Zanoni via Facebook.

"Ironisnya, ruangan itu dibanjiri dua menit setelah partai mayoritas Liga, Saudara Italia, dan Forza Italia menolak amandemen kami untuk mengatasi perubahan iklim," kata Zanoni yang adalah wakil ketua komite lingkungan, dilansir dari laman CNN, Jumat (15/11)

Di antara amandemen yang ditolak adalah langkah-langkah untuk mendanai sumber-sumber energi yang terbarukan, penggantian bus diesel dengan bus ramah lingkungan, penggantian tungku kayu yang menghasilkan polusi tinggi, dan pengurangan sampah plastik.

Zanoni kemudian menuduh presiden regional Veneto Luca Zaia, yang adalah anggota Partai Liga sayap kanan Matteo Salvini, karena mengajukan anggaran tanpa tindakan nyata untuk memerangi perubahan iklim.

Juru bicara dewan regional Alessandro Ovizach mengonfirmasi bahwa dewan tersebut kebanjiran setelah membahas amandemen anggaran 2020, tanpa menyebutkan yang mana. Kemudian Roberto Ciambetti dari Partai Liga menolak tuduhan Zanoni dalam sebuah pernyataan.

"Di luar propaganda dan pembacaan menipu, kami memutuskan anggaran daerah sebesar 965 juta euro (Rp15 triliun) selama tiga tahun terakhir dalam perang melawan polusi udara, kabut asap, yang merupakan faktor penentu dalam perubahan iklim," kata pernyataan Ciambetti.

"Mengatakan kami tidak melakukan apa pun adalah suatu kebohongan. Kami adalah wilayah yang setelah banjir tahun 2010 meluncurkan rencana untuk melindungi keselamatan hidrogeologis dengan total biaya 2,6 miliar euro (Rp40,3 triliun, jumlah yang terlalu tinggi untuk keuangan daerah," tambahnya.

Menurut keterangan situs resmi dewan, rapat pada hari Kamis dan Jumat akan dipindahkan ke Treviso hingga banjir surut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pizza Gratis Asal Pelanggan Tak Pakai HP

Curry Pizza, California  | Odditycentral  Penggunaan smartphone memang sangat membantu semua hal termasuk dalam mendapatkan informasi. Tetapi seiringnya perkembangan teknologi, sekarang smartphone makin canggih dan orang-orang semakin kecanduan menggunakannya.  Tentu hal itu tidak baik, karena sangat berdampak buruk bagi kesehatan. Maka dari itu, restoran Curry Pizza peduli dengan dampak negatif penggunaan smartphone ini. Pihaknya menawarkan makan gratis jika pelanggannya tidak menggunakan smartphone selama makan.  AkuratKuliner melansir dari Odditycentral, Jumat, (21/6), sebuah restoran pizza di Fresno, yang berbasis di California, AS, baru saja menawarkan kepada pelanggannya sebuah penawaran menarik yang bertajuk 'Talk to Each Other Discount'.  Ketentuannya, para pelanggan tersebut setuju untuk tidam menggunakan ponsel mereka dan hanya bicara dengan teman ataupun pelanggan lainnya. Diskon hanya berlaku untuk grup yang terdiri dari empat o...

Geluti Bisnis Pertanian Anti Kotor, Coba Nih Hidroponik!

Ahmad Hasan (42) pengelola RTPA saat melakukan perawatan tanaman hidroponik di kawasan Mangga Besar, Jakarta Pusat, Senin (12/11/2018). Tanaman hidroponik yang berada di dalam RTPA Madusela ini merupakan kegiatan warga setempat sebagai lahan alternatif bercocok tanam karena lahan berupa tanah sudah tidak bisa digunakan untuk menanam. Tanaman hidroponik yang ditanam berupa sayuran ini nantinya dimanfaatkan dengan menjualnya kembali kepada warga yang membutuhkan.  | AKURAT.CO/Sopian  Mau mencoba menggeluti bisnis pertanian tapi takut kotor, maka Sobat Milenial bisa mencoba bisnis pertanian dengan sistem hidroponik. Sistem pertanian hidroponik ini mulai dikenal khususnya dikalangan masyarakat perkotaan, mengingat daerah perkotaan memiliki keterbatasan lahan. Selain memiliki kegiatan utama seperti bekerja kantoran misalnya, Sobat Milenial juga akan memiliki penghasilan dari bertani hidroponik sebab perawatannya tidak sulit. Tak hanya itu, penghasilannya pun lumayan menja...

18 Desa Siap Gelar Pilkades Batang Tanpa Politik Uang

Bupati Batang Wihaji melaksanakan Silaturahmi Kamtibmas di Kecamatan Reban Senin ( 16/9/2019). (Dwi Ariadi/Ayobatang)  Menjelang Pilkada Serentak di Kabupaten Batang yang akan digelar 29 September 2019, terdapat 18 desa yang menyatakan siap melaksanakan pilkades secara beradab dan bersih dari politik uang. "Harapan saya pilkades serentak  ini menyenangkan dan tanpa money politik demi untuk kemaslahatan desa. Jadikan demokrasi pilkades yang menggembirakan bagi warga," kata Bupati Batang Wihaji usai melaksanakan Silatirhmi Kamtibmas di Kecamatan Reban, Senin ( 16/9/2019). Gerakan moral anti money politik dilaksanakan di 15 kecamatan, kegiatan menghadirkan semua calon kepala desa, panitia pilkades dan Badan Pemusyawarayan Desa ( BPD), dan tokoh masyarakat desa. "Ini merupakan gerakan moral sebagai bentuk ikhtiar kita untuk harapan dan masa depan yang lebih baik dan terciptanya kesejahteraan masyarakat desa, yang awalnya gerakan ini hanya empat desa dan ...